Kepemimpinan Visioner Andi Sofyan Hasdam: Dari Bapak Pembangunan Kota Bontang Hingga Duduk di Kursi Senator Kaltim di Senayan
Oleh: Eko Yulianto, S.H.
(Praktisi Hukum dan Aktivis LSM LIRA)

BONTANG, LIRANEWS.CO | Di tengah hiruk-pikuk politik nasional yang kerap diwarnai oleh rebutan kekuasaan semata, kita patut mengapresiasi hadirnya figur-figur negarawan yang memahami hakikat kepemimpinan sebagai amanah untuk membangun peradaban. Salah satu figur yang menarik untuk dicermati adalah Dr. dr. H. Andi Sofyan Hasdam, Sp.S., seorang senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Kalimantan Timur yang baru dilantik untuk periode 2024-2029 .
Sebagai praktisi hukum yang selama ini mengamati dinamika politik dan pemerintahan, saya melihat Andi Sofyan Hasdam bukanlah wajah baru di panggung politik Kaltim. Lebih dari itu, beliau adalah bukti hidup bahwa konsistensi dan visi besar mampu mengubah wajah sebuah daerah. Rekam jejaknya sebagai Wali Kota Bontang selama dua periode (2001-2011) telah mengukirkan tinta emas dalam sejarah pembangunan di Kota Taman tersebut .

Menarik untuk menyoroti latar belakang Andi Sofyan Hasdam yang tidak biasa. Di tengah hiruk-pikuk politik, beliau adalah seorang dokter spesialis saraf (Sp.S.) lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Profesi ini mengajarkan ketelitian, kesabaran, dan keputusan yang presisi. Karakter inilah yang kemudian ia bawa ke dalam pemerintahan. Ada ungkapan menarik yang menyebutnya sebagai “dokter politik” seseorang yang paham betul bahwa jika salah urat, seluruh sistem bisa lumpuh .
Ketika memimpin Bontang, tangan dinginnya benar-benar terasa. Ia tidak sekadar duduk di kursi kekuasaan, tetapi merumuskan visi besar melalui empat pilar pembangunan, yaitu Bontang Sehat 2008, Bontang Cerdas 2010, Bontang Lestari 2010, dan Bontang Bebas Kemiskinan 2020 . Visi ini bukanlah jargon kosong. Di masa kepemimpinannya, Bontang menjelma menjadi salah satu kota dengan tata kelola terbaik di Kalimantan Timur.

Salah satu warisan terbesarnya adalah pembangunan Sanitarian Field (Tempat Pemrosesan Akhir sampah) pada tahun 2003. Dimana sebelum era kepemimpinan beliau, sampah kota Bontang dibuang di KM.8 pinggir jalan Poros Samarinda-Bontang, yang menimbulkan bau menyengat dan lingkungan yang kotor. Buah pikirannya ini terbukti visioner. Bertahun-tahun setelah masa jabatannya berakhir, infrastruktur yang ia bangun menjadi fondasi utama bagi Bontang untuk meraih Piala Adipura untuk ke-10 kalinya secara berturut-turut . Wali Kota Bontang periode berikutnya, Adi Dharma, bahkan secara terbuka berterima kasih karena fasilitas yang dibangun era Andi Sofyan Hasdam menjadi poin tertinggi penilaian Adipura yang belum dimiliki kota lain . Inilah bukti kepemimpinan yang tidak instan, tetapi berkelanjutan.

Atas dedikasi dan karya nyatanya membangun kota dari akar rumput, tidak berlebihan jika rakyat Bontang menjulukinya sebagai “Bapak Pembangunan”. Gelar ini lahir dari pengakuan masyarakat atas peran sentralnya dalam meletakkan fondasi pembangunan sumber daya manusia dan infrastruktur perkotaan.
Jika kita menelusuri rekam jejak pendidikannya, kita akan menemukan fondasi kokoh yang membentuk pola pikir visionernya. Andi Sofyan Hasdam menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, yang kemudian mengantarnya menjadi seorang dokter spesialis saraf (Sp.S). Profesi ini mengajarkan ketelitian, kesabaran, dan pengambilan keputusan yang presisi, karakter yang kemudian ia bawa ke dalam dunia pemerintahan, sehingga tak salah jika ada yang menjulukinya sebagai “dokter politik” .
Namun, yang lebih mengagumkan, semangat belajarnya tidak pernah padam meski usianya tak lagi muda. Di usianya yang ke-63 tahun, ia memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah dan berhasil meraih gelar Doktor (S3) dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2019, dengan predikat Sangat Memuaskan. Gelar doktor ia raih di Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, dengan disertasi yang mengkaji hubungan kadar logam berat pada lingkungan dengan kejadian penyakit autisme di Kota Bontang, Samarinda, dan Kabupaten Bantul . Pencapaian ini membuktikan bahwa Andi Sofyan Hasdam adalah seorang pembelajar sejati (long life education). Di usianya yang ke-66 tahun, ia sukses menyandang gelar doktor, memberikan teladan bahwa menuntut ilmu tidak mengenal usia dan menjadi inspirasi bagi generasi muda, terutama di Kota Bontang dan Kalimantan Timur pada umumnya.
Jika menelusuri lebih jauh, ternyata darah kepemimpinan dan pengabdian publik mengalir kuat dalam keluarganya. Andi Sofyan Hasdam lahir dari pasangan H. Andi Sewang Daeng Muntu (Hasdam), seorang tokoh politik yang pernah duduk sebagai anggota DPR RI hasil Pemilu 1955 sekaligus Ketua Pimpinan Muhammadiyah Sulawesi Selatan pada masanya. Dari sang ayah pula, ia mewarisi jiwa organisasi yang kuat di Muhammadiyah, bahkan sempat menjabat sebagai Ketua PW Muhammadiyah Kaltim.

Tradisi pengabdian ini kemudian dilanjutkan oleh istri dan anak-anaknya. Sang istri, dr. Neni Moerniaeni, Sp.OG, bukan hanya pendamping setia, tetapi juga penerus estafet kepemimpinan di Bontang dengan menjabat sebagai Wali Kota Bontang periode 2016-2021, dan saat ini terpilih kembali untuk periode 2024-2029, setelah sebelumnya juga sempat mengabdi sebagai Ketua DPRD Bontang dan anggota DPR RI. Putra sulung mereka, dr. Andi Satya Adi Saputra, kini mengemban amanah sebagai anggota DPRD Kalimantan Timur. Sementara putra kedua, Andi Faizal Sofyan Hasdam, dipercaya sebagai Ketua DPRD Kota Bontang yang saat ini telah memasuki periode kedua. Bahkan menantu perempuannya, Shemmy Permata Sari, istri dari Andi Faizal, juga turut serta dalam kancah politik daerah dengan lolos sebagai anggota DPRD Kalimantan Timur. Sementara itu Putri bungsu mereka, Andi Amalia Nevyanti, S.Ked, turut mengawal tradisi akademik dan profesional dalam keluarga.
Tentu, konsentrasi kekuasaan di lingkup keluarga ini kerap memicu diskursus publik tentang dinasti politik. Namun jika kita cermati, fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari kualitas dan kapasitas masing-masing individu yang teruji dalam proses demokrasi. dr. Neni Moerniaeni, misalnya, adalah seorang dokter spesialis kandungan lulusan Universitas Airlangga yang memiliki rekam jejak panjang dalam pelayanan publik dan organisasi, bahkan pernah menjadi anggota DPR RI sebelum memimpin Bontang. Andi Faizal pun membuktikan diri dengan meraih suara terbanyak dalam Pileg, bukan semata karena nama besar orang tua.

Terlepas dari pro-kontra yang ada, tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga Andi Sofyan Hasdam telah menciptakan sebuah ekosistem kepemimpinan yang saling menguatkan. Ketika sang suami meletakkan fondasi pembangunan, sang istri melanjutkan, dan sang anak mengawal dari sisi legislatif. Pola ini, jika dikelola dengan profesionalisme dan integritas seperti yang selalu ditekankan Neni Moerniaeni, justru dapat menciptakan sinergi antara eksekutif dan legislatif yang harmonis demi kemajuan daerah .
Kesuksesan Andi Sofyan Hasdam memimpin Bontang juga tercermin dari deretan penghargaan nasional yang menghiasi perjalanan kariernya. Di era kepemimpinannya, program-program strategis nasional berjalan dengan sangat baik. Ia menerima penghargaan bergengsi seperti Manggala Karya Kencana dari BKKBN, Citra Bhakti Abdi Negara, serta Satya Lencana dari Presiden RI . Penghargaan ini bukan sekadar pajangan, melainkan bukti bahwa program pembangunan, terutama di bidang keluarga berencana, pelayanan publik, dan kepemudaan, berjalan dengan sukses di Bontang.

Kiprahnya tidak berhenti di kursi eksekutif. Sebagai seorang intelektual sejati, ia juga mengabdikan diri di dunia akademik dengan menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT). Gelar doktornya di bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan dari IPB semakin melengkapi kapasitasnya sebagai negarawan yang memahami isu pembangunan berkelanjutan secara komprehensif .
Kini, dengan pengalaman panjang sebagai kepala daerah, akademisi, dan praktisi kesehatan, Andi Sofyan Hasdam mengemban amanah baru sebagai anggota DPD RI. Pemilihannya dengan perolehan 179.346 suara membuktikan bahwa publik Kalimantan Timur masih menaruh kepercayaan besar padanya .
Kehadirannya di Senayan menjadi sangat strategis, terutama di tengah isu besar pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur. Dengan latar belakang keilmuannya di bidang lingkungan dan pengalamannya sebagai dokter, ia memiliki perspektif unik yang tidak dimiliki banyak senator lain. Ia tidak hanya mampu berbicara tentang kebijakan politik dan pembangunan fisik IKN, tetapi juga mampu mengawal dampak kebijakan terhadap lingkungan dan kesehatan publik . Di sinilah letak urgensi kehadiran sosok seperti Andi Sofyan Hasdam. Ia adalah tipe wakil rakyat yang bekerja tidak dengan riuh di media sosial, tetapi dengan tenang, terukur, dan hasilnya terlihat setelah waktu berjalan.

Sebagai aktivis LIRA yang kerap menyuarakan aspirasi masyarakat bawah, saya menilai figur Andi Sofyan Hasdam adalah representasi pemimpin yang lahir dari rahim birokrasi dan pengabdian. Ia adalah teladan bahwa seorang pemimpin harus memiliki integritas, kapasitas, dan rekam jejak yang jelas.
Selamat bekerja untuk Dr. dr. H. Andi Sofyan Hasdam, Sp.S. di Gedung DPD RI. Semoga pengalaman sebagai “Bapak Pembangunan Bontang” dapat menjadi bekal untuk memperjuangkan kemajuan Kalimantan Timur dan Indonesia, khususnya dalam menyongsong era baru di tanah Benua Etam.
Tentang Penulis:
Eko Yulianto, S.H. adalah seorang praktisi hukum yang berorientasi sosial kemasyarakatan (Social Oriented), kerap memberikan bantuan hukum kepada masyarakat kecil dan kelompok marginal dalam mencari keadilan, dikenal aktif sebagai Penggiat Anti Korupsi di daerah khususnya Kota Bontang, Kalimantan Timur, dan saat ini dipercaya memegang jabatan di beberapa organisasi kemasyarakatan, diantaranya sebagai Walikota (Ketua) DPD LSM LIRA Kota Bontang, Ketua PC LPBH NU Kota Bontang, Biro Hukum Elang Tiga Hambalang (ETH) Kaltim, Ketua Indonesian Tax Care (INTAC) Kaltim, dan Wakil Ketua PWJT Kota Bontang. (Red)

Ikuti saluran LIRANEWS.CO di WhatsApp klik link dibawah ini: https://whatsapp.com/channel/0029VbBklJ0GehEKk2kjdc3T







