China Sedang Gawat: Target Ekonomi Terendah Sejak 1991, Dampaknya Akan Terasa Sampai ke Indonesia

JAKARTA, LIRANEWS.CO | China sedang menghadapi situasi sulit. Masalah perekonomian mereka tidak hanya berdampak di dalam negeri, tetapi juga akan berpengaruh terhadap Indonesia, bahkan hingga ke tingkat usaha kecil di lingkungan sekitar.
China baru saja menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5 hingga 5 persen. Angka ini merupakan target terendah sejak tahun 1991, atau dalam 35 tahun terakhir. Perdana Menteri Li Qiang dalam sidang parlemen menyatakan bahwa negaranya menghadapi
“lingkungan internasional yang kompleks dan penuh tantangan”.
Lebih mengkhawatirkan lagi, masyarakat China cenderung enggan berbelanja. Pemerintah telah membagikan voucher dan program tukar tambah barang konsumsi dengan dana 250 miliar RMB, namun sektor yang terdorong hanya perjalanan wisata. Belanja per kapita justru menurun. Bioskop-bioskop pun sepi. Fenomena ini menunjukkan ketakutan ekonomi yang sudah mengakar. Para analis menilai kebijakan stimulus lebih menguntungkan perusahaan daripada rumah tangga.
Lalu, apa hubungannya dengan Indonesia?
Indonesia, dengan jumlah penduduk 270 juta jiwa, merupakan pasar yang sangat potensial. Masyarakat Indonesia cenderung menyukai barang-barang murah. Dalam situasi ekonomi lesu, China akan berusaha meningkatkan ekspor untuk bertahan. Mereka akan membuang produk murah ke pasar yang mudah ditembus, termasuk Indonesia. Akibatnya, produk-produk seperti pakaian, elektronik, dan perkakas murah akan membanjiri pasar domestik.
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, bahkan menyoroti praktik impor ilegal yang memperparah keadaan. Menurutnya, pasar Indonesia sudah “becek” dan “kotor” karena dipenuhi barang impor, sehingga UMKM lokal kesulitan bersaing. Data UNTrade menunjukkan adanya kesenjangan antara nilai ekspor China dan impor Indonesia, yang mengindikasikan praktik under-invoicing (penyalahgunaan nilai pabean). Misalnya, ekspor kaos dari China ke Indonesia tercatat 61,7 juta dolar AS pada 2024, sementara data impor Indonesia hanya 20,4 juta dolar AS. Hal serupa terjadi pada produk hijab dan pakaian bayi.
Selain itu, China merupakan pembeli utama komoditas Indonesia, seperti nikel, batu bara, dan minyak sawit mentah (CPO). Data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2026 menunjukkan bahwa pada Januari 2026, ekspor Indonesia ke China mencapai 5,27 miliar dolar AS, atau hampir 25 persen dari total ekspor nonmigas. Jika ekonomi China melemah, permintaan komoditas akan turun, sehingga harga anjlok dan ekspor Indonesia menurun. Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memperingatkan bahwa perlambatan China akan menjadi tekanan besar bagi perdagangan dan investasi Indonesia pada 2026. Dampak lanjutannya adalah potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor pertambangan.
Center of Economic and Law Studies (Celios) juga memperkirakan bahwa kondisi ini akan membuat produk China semakin mendominasi e-commerce di Indonesia, terutama karena daya beli masyarakat sedang melemah. Konsumen yang sensitif terhadap harga akan cenderung memilih barang termurah, yang pada akhirnya mendorong pedagang lokal untuk menjual produk impor.
Jadi, ketika China mengalami perlambatan ekonomi dan membuang produk murahnya ke Indonesia, apakah usaha Anda, pekerjaan Anda, atau UMKM Anda sanggup bertahan? Pasar Indonesia akan dihadapkan pada persaingan harga yang sangat ketat.
Laporan: Biro Jakarta | Editor: Redaksi LIRANEWS.co | Penulis: Darmanto








