Berita Populer

Kerugian di Bawah Rp2,5 Juta Bukan “Perkara Biasa”, Melainkan Masuk Kategori “Perkara Cepat” atau Tindak Pidana Ringan (Tipiring)

Kontrol Publik Anggaran Pendidikan, JAMPER Kaltim Soroti Temuan BPK soal Dana BOS Kutim

Halal Bihalal Demokrat Gresik Jadi Ajang Konsolidasi, Target 7 Kursi DPRD di Pemilu 2029

China Belajar dari Runtuhnya Pertahanan Iran: 5 Pelajaran Pahit yang Bikin Beijing Siaga

China Belajar dari Runtuhnya Pertahanan Iran: 5 Pelajaran Pahit yang Bikin Beijing Siaga

JAKARTA, LIRANEWS.CO | Runtuhnya pertahanan Iran setelah gempuran militer Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei tidak hanya mengguncang Timur Tengah, tetapi juga menjadi bahan kajian serius bagi militer China.

Di tengah heningnya poros Asia, Beijing diam-diam menjadikan tragedi Teheran sebagai “studi tour militer” yang berharga. Lewat kanal resmi angkatan bersenjatanya, China merilis analisis tajam tentang lima pelajaran brutal dari jatuhnya Iran yang layak dicermati oleh seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia.

Berikut rangkuman lengkapnya:


  1. Musuh Dalam Selimut: Ancaman Paling Senyap, Paling Mematikan

Militer Beijing menyoroti bahwa kehancuran Iran tidak sepenuhnya datang dari rudal atau pesawat tempur asing. Justru, pengkhianatan internal menjadi faktor kunci. Intelijen Israel dilaporkan berhasil membobol dan mengendalikan hampir seluruh jaringan kamera CCTV di ibu kota Teheran sebelum serangan dilancarkan.

Ditambah keberadaan kelompok anti-pemerintah yang aktif menggerogoti dari dalam, China menegaskan bahwa musuh terbesar sebuah negara bukan lagi tentara asing, melainkan

“orang-orang di sekitarmu yang rela menjual negara demi kepentingan pribadi atau kelompok.”


  1. Beriman Buta pada Perdamaian Adalah Jebakan Maut

Kesalahan fatal Iran, menurut analisis Beijing, adalah terlalu lama berharap pada meja perundingan dan berkhayal bahwa musuh akan bersikap lunak.

“Iman buta pada perdamaian” hanya membuat sistem pertahanan lengah, mengundang serigala masuk sambil berpura-pura membawa ranting zaitun.

Di dunia geopolitik yang keras, tidak ada tempat bagi nostalgia damai tanpa kekuatan yang siap menghantam.


  1. Hukum Paling Dingin: Logika Militer, Bukan Moralitas

Lupakan pengadilan internasional atau nilai-nilai kemanusiaan. Realitas lapangan berbicara dengan bahasa yang jauh lebih sederhana: siapa yang memiliki peluru, rudal, dan teknologi tercanggih, dialah yang menentukan akhir pertempuran.

China mencatat bahwa dalam perang modern, “kekuatan tembakan adalah satu-satunya hukum yang diakui.”


  1. Ilusi Kemenangan Semu: Hancurkan Musuh, Tancapkan Durian Runcing

Dalam nada yang cukup keras, China menyindir Amerika Serikat dan sekutunya. Menghancurkan ibu kota dan menewaskan pemimpin lawan mungkin terlihat seperti kemenangan kilat. Namun pengalaman di Irak, Suriah, dan Libya membuktikan bahwa intervensi semacam itu justru menjebak negara adidaya dalam perang berkepanjangan yang menguras sumber daya.

Kemenangan awal bisa jadi adalah awal dari kekalahan panjang.


  1. Kemandirian Mutlak: Satu-satunya Tameng Kedaulatan

Pelajaran terakhir sekaligus yang paling menohok: jangan pernah berharap diselamatkan oleh negara lain. Berdiri di atas kaki sendiri adalah harga mati bagi kedaulatan.

Menariknya, analisis ini beririsan dengan sikap tegas Presiden RI Prabowo Subianto yang sejak awal terus mendorong kemandirian bangsa. “Tidak akan ada satu pun negara asing yang rela berkorban saat kita hancur,” demikian pesan yang kerap disampaikannya.


Kesimpulan Redaksi:

China tengah memberi kuliah umum gratis kepada dunia: runtuhnya Iran adalah bukti paling telanjang bahwa di era modern, berharap pada belas kasihan musuh dan bergantung pada sekutu adalah tindakan bunuh diri berlapis logika palsu.

Jika negaramu lemah dari dalam, tinggal hitung hari sampai satelit dan rudal asing meratakan tanah kelahiranmu.

Disadur dari: SINDOnews dengan penyesuaian redaksi.

Previous Post

Pererat Paseduluran, Rukun Budoyo Gelar Buka Bersama di Langen Budoyo

Next Post

Kritik Keras Fafifu: “Indonesia Bukan Lagi Negara, Tapi Korporasi Raksasa”

Add a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *