Berita Populer

LSM LIRA Kolaka Aktifkan Satgas Pengawas Program Makan Bergizi Gratis

Aksi Jilid IV di Kejagung, Mahasiswa Desak BRHN Segera Ditersangkakan dalam Kasus Jembatan Cirauci II

Kabar Gembira Bagi Masarakat Bawean Mudik Gratis Kouta 3800 Tiket

Foto Ilustrasi Peristiwa

Hutan Ketapang Mencekam: Saat Security PT SRM dan Anggota TNI Terpaksa Mundur Dikepung 15 WNA Bersenjata

Foto Ilustrasi Peristiwa

KETAPANG, LIRANEWS.co | Keheningan sore di kawasan tambang emas Desa Pemuatan Batu, Kalimantan Barat, pecah seketika. Bukan oleh suara mesin bor, melainkan oleh teriakan asing dan kilatan senjata yang tak seharusnya ada di tangan warga sipil.

Di tanah berdaulat Indonesia, sebuah ironi terjadi: Aparat negara dipaksa mundur oleh sekelompok warga asing.

Jarum jam menunjukkan pukul 15.30 WIB. Di langit PT Sultan Rafli Mandiri (SRM), suara dengungan drone terdengar asing. Benda terbang itu bermanuver di atas area vital perusahaan, memicu kecurigaan.

Tim pengamanan perusahaan tak bergerak sendirian. Lima prajurit TNI dari Batalyon Zeni Tempur 6/Satya Digdaya (Yonzipur 6/SD)—yang kebetulan sedang berada di lokasi untuk latihan dasar—turun tangan. Bersama Chief Security, mereka memburu sang pilot drone. Misi mereka sederhana: menertibkan gangguan keamanan.

Namun, apa yang menanti mereka 300 meter dari gerbang perusahaan bukanlah sekadar pelanggaran etika penerbangan. Itu adalah sebuah penyergapan.

Saat petugas mendekati empat orang asing yang mengendalikan drone, situasi berubah drastis dalam hitungan detik. Dari balik bayang-bayang, sebelas WNA China lainnya muncul bak pasukan siap tempur.

Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Di tangan mereka tergenggam senjata tajam yang berkilau, airsoft gun yang ditodongkan, hingga alat setrum listrik yang menyala mengancam. Total 15 orang asing, berdiri beringas menghadang 6 orang putra bangsa.

Kalah jumlah dan menghadapi eskalasi yang mematikan, para prajurit TNI dan sekuriti dihadapkan pada pilihan sulit: Meladeni konfrontasi berdarah atau menyelamatkan diri.

“Dikarenakan kalah jumlah dan menghindari benturan, anggota langsung berlari menuju area perusahaan,” ungkap Imran Kurniawan, Chief Security PT SRM.

Di belakang mereka, amarah para WNA dilampiaskan pada benda mati. Mobil Mitsubishi Triton putih milik perusahaan menjadi sasaran amuk. Kaca dihantam, bodi dirusak, meninggalkan jejak keberanian yang kebablasan dari para pendatang di tanah tuan rumah.

Malam turun di Ketapang, menyisakan bangkai kendaraan yang rusak berat dan sebilah senjata tajam yang berhasil diamankan sebagai barang bukti. Meski Kapolsek Tumbang Titi, Iptu Made Adyana, menyatakan situasi kini kondusif, kejadian Minggu sore itu meninggalkan tanda tanya besar yang menggantung di udara: “Seberapa beraninya mereka hingga seragam loreng TNI pun tak lagi membuat gentar?”

Laporan: Biro Ketapang | Editor: Redaksi LIRANEWS.co | Penulis: Eko Yulianto

Previous Post

Masyarakat Lingkas Ujung Minta Prioritas Rekrutmen dan CSR, Pelindo Berjanji Akomodir

Next Post

Dua Tersangka Pidana Perpajakan Diserahkan ke Kejari Balikpapan

Add a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *