Paguyuban yang kini dikenal sebagai IKPB tetap jaga semangat silaturahmi, angkat sejarah dan budaya Blitar di perantauan.
BONTANG, LIRANEWS.co | Semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya Blitar kembali ditunjukkan oleh warga Blitar yang berada di Kota Bontang. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23, Ikatan Keluarga Patria Bontang (IKPB) atau yang dulu dikenal sebagai Paguyuban Warga Blitar Bontang menggelar pagelaran Seni Jaranan Ryo Manggolo Putro dan tari kreasi Blitar Kawentar, Sabtu 13 Desember 2023 malam bertempat di Lapangan UMKM Center Parikesit, Bontang.

Acara yang digelar dengan konsep yang cukup meriah ini menjadi bukti bahwa meski telah mengalami beberapa kali transformasi nama, semangat silaturahmi dan pelestarian budaya asal tetap menjadi ruh utama paguyuban. Ketua Ikatan Keluarga Patria Bontang Rocky Kurniansyah menegaskan, bahwa nama hanyalah sebuah sebutan, namun esensinya tetaplah satu: sebagai wadah pemersatu Warga Blitar di perantauan khususnya Kota Bontang.
“Nama bisa berubah, tetapi semangat kami untuk menjaga tali silaturahmi dan mengenang akar budaya Blitar tidak pernah pudar. IKPB ini adalah rumah kedua bagi kami,” ujarnya
Pagelaran seni tersebut sedianya akan dibuka dengan pertunjukan tari kreasi bertema “Blitar Kawentar”, diikuti dengan puncak acara berupa pertunjukan Seni Jaranan Ryo Manggolo Putro yang dinamis dan penuh energi. Puluhan penari dengan kostum warna-warni menampilkan atraksi khas yang memukau penonton, diiringi oleh musik gamelan yang menghentak.
Lebih lanjut Rocky menjelaskan kembali makna historis dari nama “Patria” yang sempat melekat pada organisasi. Kata “Patria” merupakan akronim dari “PETA-TRIA”.
“PETA merujuk pada Pasukan Pembela Tanah Air yang melakukan pemberontakan melawan Jepang di Blitar di bawah pimpinan Soedanco Soeprijadi. Sementara TRIA adalah moto Kota Blitar: Tertib, Rapi, Indah, dan Aman,” jelas salah satu sesepuh paguyuban, Sutrisno.
Dengan menyebut “Patria”, diharapkan muncul bayangan akan kobaran semangat nasionalisme dan jiwa pejuang yang melekat pada sejarah Kota Blitar. “Ini adalah cara kami menghargai sejarah dan identitas asal usul kami, meski kini kami hidup di Bontang,” tambah Rocky.
Paguyuban Warga Blitar Bontang telah melewati perjalanan 23 tahun dengan tetap konsisten mengadakan kegiatan rutin, baik yang bersifat sosial, keagamaan, maupun seni budaya. Ke depan, mereka berkomitmen untuk terus mempererat hubungan antarwarga dan aktif melestarikan warisan budaya Blitar di Kota Bontang.(*)








