Wamen Agus Jabo: Guru Sekolah Rakyat adalah Patriot Pemutus Rantai Kemiskinan

BEKASI, LIRANEWS.co | Wakil Menteri Sosial (Wamensos) RI, Agus Jabo Priyono, menegaskan peran krusial kepala sekolah, guru, dan tenaga pendidik sebagai “patriot pemutus transmisi kemiskinan” dalam program prioritas nasional, Sekolah Rakyat.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Sekolah Rakyat 2026 di Bekasi, Sabtu (31/1/2026), yang dihadiri 166 Kepala Sekolah Rakyat perintis dari seluruh Indonesia.
“Kita tidak boleh puas diri, karena dunia makin lama makin berat,” tegas Agus Jabo, seraya mengapresiasi perubahan drastis yang telah dicapai para siswa hanya dalam satu semester.
Program Sekolah Rakyat, yang merupakan bagian dari upaya menuju Indonesia Emas 2045, secara khusus dirancang untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Saat ini, telah terdapat 166 sekolah rintisan yang menampung 15.594 siswa.
Pemerintah berencana membangun 500 Sekolah Rakyat permanen dengan kapasitas masing-masing 1.000 siswa. Target pembangunan tahun 2026, yang semula 104 titik, telah diperintahkan Presiden untuk ditingkatkan menjadi 200 titik. Setiap sekolah permanen akan dibangun di atas lahan minimal 6,8 hektare dengan fasilitas lengkap.

Dalam rapat tersebut, Wamensos memaparkan tiga target utama pendidikan di Sekolah Rakyat:
- Kecerdasan Intelektual: Menjadikan anak-anak dari keluarga kurang mampu sebagai generasi yang pintar.
- Pendidikan Karakter: Membentuk pribadi mandiri, disiplin, dan berjiwa kebangsaan kuat melalui sistem asrama.
- Keterampilan Praktis: Membekali siswa dengan berbagai kemampuan untuk siap bekerja setelah lulus.
“Harus ada bentuk baru, pola baru yang berkualitas, plus-plus, yang berbeda dari sekolah reguler,” ujar Agus Jabo menekankan pentingnya pendekatan pendidikan yang adaptif.
Meski baru berjalan satu semester, Wamensos menyoroti kemajuan signifikan para siswa, termasuk peningkatan kepercayaan diri yang luar biasa. Namun, ia mengingatkan agar tidak berpuas diri dan memerintahkan evaluasi menyeluruh atas pelaksanaan enam bulan pertama untuk mengidentifikasi hambatan dini.

Keberlangsungan program ini didukung penuh oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), mencakup pembangunan fisik, gaji guru, modul belajar, hingga pendampingan sosial keluarga. Semangat gotong royong juga menjadi pilar, dengan peran aktif guru dan keterlibatan orang tua siswa.
Menghadapi tahun ajaran baru dengan penambahan sekitar 30.000 siswa, Agus Jabo mengakui akan ada tantangan dan dinamika tersendiri. Ia berharap lingkungan Sekolah Rakyat dapat terbebas dari bullying, kekerasan, dan intoleransi.

Dengan sinergi dan kolaborasi yang kuat, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam memenuhi hak dasar warga negara sekaligus investasi jangka panjang untuk memutus mata rantai kemiskinan menuju Indonesia Emas 2045.
Laporan: Biro Bekasi | Editor: Redaksi LIRANEWS.co | Penulis: Moch. Soeminto, S.Kom., S.T.








