Mengaku Diusir dan Dituduh Pencuri, Pendamping Anak Yatim di Bontang Minta Klarifikasi Dispopar

Bontang, LIRANEWS.co – Sebuah insiden kurang menyenangkan dialami rombongan pendamping anak yatim dari lembaga sosial I Care Bontang saat berkemah di kawasan wisata Pulau Beras Basah, Rabu (25/3) sore. Mereka mengaku diusir, barang-barangnya dilempar, bahkan dituduh sebagai “pencuri” oleh seorang kakek yang menjaga lokasi tersebut.
Keterangan ini disampaikan langsung oleh Herlin Anggraeni, selaku relawan I Care Kota Bontang, kepada awak media, Selasa (7/4/2026). Herlin yang turut mendampingi rombongan anak yatim sepanjang kegiatan tersebut mengaku prihatin sekaligus kecewa dengan perlakuan yang diterima rombongan yang sebagian besar terdiri dari anak-anak.

Kronologi kejadian bermula saat rombongan tiba di Pelabuhan Tanjung Laut sekitar pukul 16.30 Wita. Mereka membawa serta sebanyak 50 orang anak yatim binaan I Care Bontang. Sesampainya di Pulau Beras Basah, sebelum mendirikan tenda, mereka sudah meminta izin kepada seorang kakek penjaga yang berada di sekitar Gazebo.
“Kami minta izin mau bangun tenda di samping gazebo. Tapi tidak diizinkan. Katanya ‘tidak bisa, kalau mau (harus) sewa’,” ujar Herlin menirukan pernyataan ketua rombongan.
Tak hanya itu, barang-barang milik anak-anak, termasuk tas, diduga sempat dilempar oleh kakek tersebut. Karena seluruh rombongan membawa tenda dan tidak ingin memperpanjang masalah, mereka memilih mengalah dan mendirikan tenda agak ke pinggir, di bibir pantai.
Masalah kembali memanas saat malam tiba, sekitar pukul 19.00 Wita. Ketika hendak membagikan makan malam untuk anak-anak yatim, rombongan menggelar baliho untuk dijadikan alas. Tiba-tiba, kakek yang sama datang lagi.
“Kami langsung diusir. Bahkan sampai ada kata-kata ‘pencuri’ yang diucapkan kepada kami. Padahal kami hanya menaruh baliho itu di depan tenda mereka,” jelas Herlin.
Kejadian belum usai. Keesokan paginya sekitar pukul 09.30 Wita, rombongan sudah membereskan semua perlengkapan. Tenda telah dilipat, dan barang-barang sementara disimpan di bawah tenda milik kakek tersebut karena sebagian anak berteduh di sana.
“Tiba-tiba barang kami disuruh pindah semua. Intinya tidak boleh memakai tempat mereka,” sesalnya.
Herlin menegaskan bahwa dirinya dan rombongan tidak terima dengan beredarnya pemberitaan yang tidak meminta konfirmasi dari pihak mereka. Ia menegaskan tidak pernah dimintai keterangan terkait cekcok di Pulau Beras Basah pada hari itu.
“Sebagai warga Bontang yang baik, saya minta kepada Bapak Kepala Dispopar Bontang yang terhormat untuk meluruskan berita ini secepatnya. Karena tidak ada satu pun yang benar dari berita yang menjatuhkan nama baik kami ini. Terima kasih,” pungkas Herlin mewakili rombongan.
Sementara itu Eko Mashudi Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Bontang dan pengelola Pulau Beras Basah belum memberikan tanggapan resminya. “Sebentar saya masih rapat” demikian jawab Eko singkat, saat di konfirmasi.

Namun demikian, kejadian ini menjadi sorotan, terutama terkait standar pelayanan dan akses publik terhadap destinasi wisata lokal. Sejauh ini diketahui berwisata ke Pulau Beras Basah masih gratis dan tidak dipungut biaya apapun, maka jika ada pihak-pihak yang memanfaatkan tempat wisata itu di kavling-kavling untuk di sewakan kepada pengunjung, maka hal ini perlu dilakukan klarifikasi lebih jauh.
Laporan: Biro Bontang | Editor: Redaksi LIRANEWS.co | Penulis: Yusri








