Berita Populer

Kontrol Publik Anggaran Pendidikan, JAMPER Kaltim Soroti Temuan BPK soal Dana BOS Kutim

Halal Bihalal Demokrat Gresik Jadi Ajang Konsolidasi, Target 7 Kursi DPRD di Pemilu 2029

KISAH INSPIRATIF: Tak Berebut Anggaran, Wanita Ini Bangun “Kerajaan” Mandiri untuk 15.000 Santri Gratis

KISAH INSPIRATIF: Tak Berebut Anggaran, Wanita Ini Bangun “Kerajaan” Mandiri untuk 15.000 Santri Gratis

KISAH INSPIRATIF: Tak Berebut Anggaran, Wanita Ini Bangun “Kerajaan” Mandiri untuk 15.000 Santri Gratis

Foto: Umi Waheeda

BOGOR, LIRANEWS.CO | Di tengah hiruk-pikuk birokrasi yang kerap diwarnai perebutan kursi dan tumpukan proposal, muncul sebuah kisah yang membalik logika konvensional. Seorang wanita bernama Umi Waheeda memilih jalan berbeda: tidak meminta setetes pun anggaran negara, namun berhasil membangun ekosistem ekonomi yang menghidupi 15.000 santri secara gratis. Kisahnya kini menjadi pengingat bahwa kemandirian adalah martabat.

Bukan di gedung kementerian, Umi Waheeda memilih berdiri di atas lahan Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman. Di kota kecil itu, 15.000 anak menjalani hidup tanpa biaya—makan tiga kali sehari, tidur di asrama layak, dan mengenyam pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Gratis total.

Yang mengejutkan, rahasia di balik operasional raksasa pendidikan ini bukanlah donatur asing atau subsidi besar. Melainkan “mesin ekonomi” yang dibangun dengan keringat sendiri. Umi tidak hanya berbicara soal pemberdayaan; ia menjalankannya. Ia tidak sekadar berteori soal ketahanan pangan; ia turun menanam di ratusan hektar sawah.

Di bawah asuhannya, pesantren tersebut menjelma menjadi entitas mandiri yang mengoperasikan 59 unit usaha. Mulai dari pabrik roti, tahu, susu kedelai, hingga percetakan. Semua dikelola oleh pesantren, dan hasilnya diputar kembali untuk membiayai mimpi ribuan santri.

Namun, yang paling menggetarkan adalah keberanian Umi menjaga martabat. Pada tahun 2008, ketika praktik pungutan liar (pungli) mencoba menyusup ke lingkungan pesantren, Umi tidak memilih jalan aman. Ia tidak takut izinnya dipersulit atau administrasinya diputar-putar.

Dengan tegas, ia memimpin belasan ribu santrinya berdiri menolak praktik kotor tersebut.

“Kenapa beliau seberani itu? Karena beliau mandiri,” ungkap salah satu pengasuh pondok. “Ketika hidup kita tidak bergantung pada sistem yang rusak, suara kita akan terdengar jauh lebih lantang.”

Umi Waheeda mengajarkan satu pelajaran berharga: kemandirian ekonomi bukan hanya soal uang, tetapi soal keberanian untuk tidak bisa dipalak.

Lahir di Singapura dengan pendidikan kelas dunia, Umi Waheeda membawa disiplin sistem Barat ke dalam jiwa pesantren. Bergelar doktor komunikasi, ia adalah sosok akademik sekaligus ibu yang tegas mengurus ekosistem ekonomi ribuan santri.

Setelah wafatnya sang suami, Habib Saggaf, Umi memikul amanah berat: menjaga agar pesantren tetap gratis “sampai kiamat”. Sebagai seorang pemimpin perempuan di lingkungan yang cenderung maskulin, ia membuktikan bahwa martabat diukur dari kinerja, bukan sekadar retorika.

Kisah Umi Waheeda adalah tamparan halus bagi mereka yang kerap beralasan, “Ya mau gimana lagi, sistemnya memang begini.” Umi menunjukkan bahwa selalu ada opsi untuk membuat jalur sendiri. Memang melelahkan, memang berdarah-darah, tetapi setidaknya kita tidak kehilangan harga diri.

Di saat dunia sibuk mencari sisa-sisa anggaran, Umi Waheeda berdiri tegak dan berkata melalui karyanya:

“Anak-anak saya tidak akan tumbuh dari belas kasihan, tapi dari kehormatan.”

Dr. Hj. Umi Waheeda binti H. Abdul Rahman, S.Psi., M.Si. adalah pembina yayasan sekaligus pemimpin Al-Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School di Parung, Bogor, yang mendirikan lembaga pendidikan gratis untuk ribuan santri.

Beliau dikenal sebagai sosok pendidik, pengusaha sosial, dan pejuang pendidikan yang berdedikasi mendampingi mendiang suaminya, Habib Segaf bin Mahdi.

Berikut adalah poin-poin penting mengenai Umi Waheeda:
Kepemimpinan di Nurul Iman: Setelah wafatnya sang suami (Abah) pada 2010, Umi Waheeda melanjutkan amanah untuk memimpin Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman dengan komitmen sekolah gratis hingga kiamat.

Pendidikan Tinggi: Beliau meraih gelar sarjana Psikologi dari Universitas Indonesia dan magister dari London School of Public Relations, serta meraih gelar Doktor dalam Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dari Institut PTIQ Jakarta.

Socio-Entrepreneurship: Umi Waheeda berhasil mengembangkan kemandirian pesantren dengan mendirikan berbagai unit usaha mandiri (termasuk pabrik roti dan tahu-tempe dari hasil daur ulang sampah) yang dikelola oleh para santri.

Penghargaan: Beliau diakui sebagai salah satu penggerak pendidikan dan wirausaha sosial di Asia Tenggara dan pernah mendapat penghargaan sebagai Ibu Bela Negara Indonesia.

Nasihat: Beliau konsisten menanamkan nilai-nilai untuk tidak mengeluh, selalu bersyukur, serta giat belajar dan mengajar agar selamat dunia akhirat.

Keseharian dan pandangan Umi Waheeda sering dibagikan melalui media sosial resmi Al-Ashriyyah Nurul Iman dan Instagram pribadinya @umiwaheeda.nuruliman.

Previous Post

Pidato Ayatullah Mojtaba Khamenei di Teheran: Serukan Persatuan Umat Islam dan Doa untuk Palestina

Next Post

Halal Bihalal Demokrat Gresik Jadi Ajang Konsolidasi, Target 7 Kursi DPRD di Pemilu 2029

Add a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *