Berita Populer

Kerugian di Bawah Rp2,5 Juta Bukan “Perkara Biasa”, Melainkan Masuk Kategori “Perkara Cepat” atau Tindak Pidana Ringan (Tipiring)

Kontrol Publik Anggaran Pendidikan, JAMPER Kaltim Soroti Temuan BPK soal Dana BOS Kutim

Halal Bihalal Demokrat Gresik Jadi Ajang Konsolidasi, Target 7 Kursi DPRD di Pemilu 2029

Israel Minta Bantuan PBB di Tengah Hujan Rudal Iran, Langkah Putus Asa?

Israel Minta Bantuan PBB di Tengah Hujan Rudal Iran, Langkah Putus Asa?

Foto: Itamar Ben-Gvir

JAKARTA, LIRANEWS.CO | Di tengah eskalasi militer yang semakin memanas, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, dilaporkan mengajukan seruan darurat kepada komunitas internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera menghentikan serangan rudal dan drone yang dilancarkan Iran ke wilayah Israel.

Langkah diplomatik yang dilakukan Ben-Gvir ini dinilai mengejutkan oleh sejumlah pengamat. Pasalnya, permintaan bantuan ini muncul di tengah gempuran Iran yang semakin intensif sebagai balasan atas operasi militer gabungan Israel-Amerika Serikat yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026.

“Ben-Gvir meminta tindakan tegas dari dunia internasional untuk menghentikan serangan rudal dan drone Iran yang terus berlanjut,” demikian bunyi pernyataan yang beredar di kalangan media.

Yang membuat situasi ini terkesan paradoks adalah fakta bahwa konflik gelombang terbaru justru dipicu oleh serangan pre-emptive Israel dan AS yang menargetkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah petinggi militer Iran hingga tewas pada 28 Februari lalu.

Serangan pembuka tersebut dilancarkan tanpa peringatan dan berhasil menewaskan lebih dari 1.200 orang di Iran, termasuk warga sipil dan anak-anak dalam insiden tragis di sebuah sekolah dasar di Minab yang diduga keras akibat rudal Tomahawk milik AS.

Namun, setelah menghadapi gelombang demi gelombang serangan balasan dari Teheran, justru Israel yang kini meminta dunia turun tangan. Tindakan ini sontak menuai sorotan tajam.

“Tindakan Israel ini sangat aneh dan terdengar lucu. Padahal mereka yang menyerang duluan tanpa pemberitahuan, menargetkan pemimpin tertinggi sebuah negara dan petinggi militernya sampai meninggal, tapi mereka merasa menjadi korban ketika dibalas,” demikian analisis yang berkembang luas di media sosial.

Di balik seruan diplomatik tersebut, sejumlah laporan dari lapangan justru menggambarkan situasi pilu yang tengah dihadapi Israel. Jurnalis India, Praj Mohan Singh, yang baru kembali dari Israel, mengungkapkan adanya sensor militer super ketat yang diterapkan otoritas Israel.

“Pemerintah (Israel) tidak akan memberi tahu apa pun kepada Anda. Anda tidak bisa mengunjungi rumah sakit yang menampung jenazah, dan ketika sebuah insiden terjadi, kami bahkan tidak tahu di mana lokasinya,” ungkap Singh seperti dilaporkan Al Jazeera .

Warga Israel juga dilaporkan mengalami kepanikan massal. Layanan ambulans Israel mencatat 29 warga terluka akibat terinjak-injak saat berebut mencapai bunker perlindungan ketika sirene serangan udara berbunyi.

Situasi pertahanan Israel disebut-sebut semakin tertekan setelah Iran mengerahkan rudal-rudal kelas berat dengan hulu ledak di atas satu ton, termasuk rudal hipersonik jenis Fattah yang mampu lolos dari sistem pertahanan Iron Dome dan THAAD milik AS

Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Hossein Majid bahkan bersumpah akan “meratakan” kota-kota di Israel dengan menggunakan semua stok rudal berat yang dimiliki.

Seruan Ben-Gvir kepada PBB dinilai sebagai bentuk kepanikan yang mulai melumpuhkan rezim Zionis. Di media sosial, publik ramai memperbincangkan ironi ini.

“Sudah mulai nampak kepanikan dan ketakutan mereka akan kehancuran karena ulah kejahatan dan arogansi mereka sendiri,” cuit sejumlah warganet.

Hingga berita ini diturunkan, PBB belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait permintaan darurat Israel. Sementara itu, IRGC menegaskan bahwa mereka sendirilah yang akan menentukan kapan perang ini akan berakhir, bukan Amerika Serikat atau Israel.

“Kamilah yang akan menentukan akhir perang. Pasukan Amerika tidak akan mengakhiri perang,” demikian pernyataan tegas IRGC pada Selasa (10/3) .

Dengan situasi di lapangan yang menunjukkan Israel mulai kewalahan menghadapi gempuran rudal Iran, seruan minta tolong ke PBB ini menjadi bukti bahwa poros perlawanan yang dibangun Iran mulai menunjukkan taringnya.

Laporan: Biro Jakarta | Editor: Redaksi LIRANEWS.co | Penulis: Yusri

Previous Post

Desakan Warga Makin Keras, FP2L Bontang Minta Wakil Wali Kota Turun Langsung Awasi Pelanggaran PT GPK dan PT EUP

Next Post

Gubernur Kaltara Resmi Buka Kejurcab I ORADO di Malinau, Dorong Domino Naik Kelas

Add a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *