Berita Populer

Kerugian di Bawah Rp2,5 Juta Bukan “Perkara Biasa”, Melainkan Masuk Kategori “Perkara Cepat” atau Tindak Pidana Ringan (Tipiring)

Kontrol Publik Anggaran Pendidikan, JAMPER Kaltim Soroti Temuan BPK soal Dana BOS Kutim

Halal Bihalal Demokrat Gresik Jadi Ajang Konsolidasi, Target 7 Kursi DPRD di Pemilu 2029

Warisan Rumah Kuno Peninggalan Kolonial Masih Bertahan di Pudakit Barat Bawean Gresik

Warisan Rumah Kuno Peninggalan Kolonial Masih Bertahan di Pudakit Barat Bawean Gresik

GRESIK, LIRANEWS.CO | Jejak sejarah masih terasa kuat di Desa Pudakit Barat, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Di wilayah yang berada di kaki Gunung Geddung tersebut, rumah-rumah kuno khas Bawean hingga bangunan bergaya kolonial Belanda masih berdiri kokoh, menjadi sakbis peradaban dan budaya merantau masyarakat setempat yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Keberadaan rumah-rumah kuno ini tidak hanya menjadi identitas arsitektur Pulau Putri, tetapi juga menyimpan cerpanjang tentang kehidupan para leluhur yang merantau ke berbagai wilayah di Pulau Jawa. Tradisi merantau yang telah membentuk karakter masyarakat Bawean itu turut meninggalkan warisan berupa material bangunan kayu berkualitas tinggi yang kini masih dapat disaksikan di sejumlah rumah adat.

Rumah Panggung Berbahan Kayu hingga Pengaruh Kolonial

Rumah khas Bawean yang akrab disebut kona oleh masyarakat setempat umumnya berbentuk rumah panggung. Meski bagian dasarnya telah dicor menyerupai konstruksi modern, material utama bangunan ini tetap mempertahankan kayu sebagai elemen dominan, mulai dari dinding, tiang pancang, hingga pagar yang tersusun rapi. Keunikan lain terletak pada lantai yang masih menggunakan tegel atau keramik lawas dengan beragam motif klasik, baik warna-warni maupun polos, menambah kesan autentik bangunan tempo dulu.

Berbeda dengan rumah panggung khas Bawean, bangunan bergaya kolonial yang juga ditemukan di desa ini lebih didominasi struktur tembok permanen. Meski demikian, sejumlah jendela kayu asli masih dipertahankan dan tetap kokoh meski usianya telah mencapai ratusan tahun.

Dhurung, Ikon Arsitektur yang Mendunia

Salah satu elemen paling khas dari setiap rumah kuno Bawean adalah Dhurung, yaitu bangunan tambahan di bagian depan rumah. Dhurung umumnya dihiasi ukiran dan pahatan bergaya lama yang dibuat hampir tanpa menggunakan paku. Keunikan lainnya, bangunan ini dapat dibongkar dan dipasang kembali sesuai kebutuhan pemiliknya.

Nilai budaya yang terkandung dalam Dhurung begitu tinggi hingga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Merantau dan Kiriman Material dari Jawa

Kepala Desa Pudakit Barat, Tobron, menjelaskan bahwa keberadaan rumah kuno dan bangunan kolonial di wilayahnya tidak terlepas dari sejarah panjang perantauan warga Bawean. Pada masa lampau, banyak warga desa merantau ke berbagai wilayah di Pulau Jawa, terutama ke Solo dan Madiun, untuk berdagang ikan pindang dan hasil bumi.

“Mereka berdagang ikan pindang dan hasil bumi. Sampai sekarang masih ada toko di Solo milik keturunan Bawean, namanya Toko Ijang,” ujar Tobron, Senin (31/3/2026).

Keberhasilan para perantau memungkinkan mereka membawa pulang material bangunan, terutama kayu, karena penanaman pohon jati di Bawean sendiri baru berkembang sekitar tahun 1970-an. Kayu hingga benda pusaka seperti keris, tombak, lemari, dan berbagai barang antik kala itu dikirim ke Bawean menggunakan perahu layar bertenaga angin.

Saat ini, diperkirakan masih terdapat sekitar delapan rumah kuno yang tetap dirawat meski sebagian dalam kondisi kosong karena pemiliknya merantau.

Harapan Pelestarian untuk Generasi Mendatang

Tobron, yang masih tinggal di rumah khas Bawean peninggalan keluarganya, menilai rumah panggung berbahan kayu merupakan identitas utama rumah khas Bawean. Menurutnya, bentuk arsitektur tersebut mendapat pengaruh dari pengalaman masyarakat yang merantau ke Jawa, terutama Solo.

Ia pun berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap pelestarian rumah-rumah kuno tersebut, bahkan mendorongnya menjadi bangunan cagar budaya agar tetap terawat.

“Semoga ada perhatian pemerintah untuk menjaga rumah kuno khas Bawean ini. Perawatannya cukup mahal, sehingga banyak yang mulai rusak,” pungkasnya.

Mayoritas pemilik rumah kuno tersebut masih memiliki hubungan kekerabatan, baik di Desa Pudakit Barat maupun Desa Pudakit Timur, memperkuat ikatan budaya yang masih terjaga hingga kini.

Laporan: Biro Gresik | Editor: Redaksi LIRANEWS.co | Penulis: Sanusi

Previous Post

Wali Kota Bontang Pastikan Tak Ada PHK Pegawai, Opsi Penyesuaian TPP Jadi Solusi

Next Post

BEBAS vs LEPAS: Memahami Celah Keadilan dan Strategi Advokasi di Era KUHAP Baru

Add a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *